Minggu, 16 Juni 2013

Interpersonal Intelligence

Kecerdasan Interpersonal
1.             Memahami Perasaan
a.             Bantu Anak Merumuskan Perasaannya
Kepada anak balita yang belum bisa berbicara sekalipun, usahakan senantiasa kita ajak berkomunikasi. Meski ia masih bayi, rumuskan perasaan anak secara verbal. Agar kelak ia terbiasa dan terampil merumuskan perasaan hatinya secara verbal. Dan untuk kepentingan ini, kita akan mengambil contoh-contoh komunikasi yang sering kita dengar di sekeliling kita.
“Masa segitu aja nggak bisa, sih?” Begitu sering kita dengar beberapa orang tua mengomentari anaknya. Apa yang salah dari komentar itu? Jika saya yang ditanya, saya akan bilang. Banyak, bahkan sangat banyak!.
Dengan komentar seperti itu, kita tidak saja melakukan stimulasi yang berlebih-lebihan (over stimulus), tetapi sekaligus juga memojokkan anak. Padahal pada umumnya, anak yang terpojok harga dirinya akan runtuh. Dengan harga diri yang runtuh, potensi anak cenderung “layu”, bahkan bisa “mati”, Nah, komentar kita yang “sembarangan” sangat berpeluang besar mematikan potensi yang dimiliki anak, termasuk potensi kreatifnya.
Sejak anak kita berusia 8-9 bulan sebenarnya telah mengembangkan emosi negatif dan emosi positif, hanya saja anak tidak dapat mengekspresikannya dengan kata-kata. Bukan semata-mata disebabkan karena kekurangan kosa kata, tetapi terlebih lagi karena belum mampu mengidentifikasi emosinya.
Karena itu kita perlu membantu anak agar mampu mengidentifikasi emosinya, dengan cara merumuskan emosi kita sendiri dan membantu merumuskan emosi anak.
Ketika anak marah, sekalipun masih bayi, kita bisa merumuskan kemarahannya dalam bentuk verbal, baik dengan komentar atau pertanyaan. Misalnya, “kamu sedang marah, ya, sayang?” atau “Oh, kamu bersikap seperti itu karena marah ya?” Dengan ungkapan-ungkapan seperti ini, anak akan belajar mengidentifikasi emosinya.
Coba pertanyaan itu kita bandingkan dengan pernyataan lain. Misalnya, “Kamu ini memang nakal!” “ Kenapa sih, kamu selalu rewel begini?” Nah, tanpa analisis lebih mendalam pun pernyataan ini sangat terasa memojokkan atau mempersalahkan anak.
b.             Membangkitkan Kesadaran Diri
Mengajari anak merumuskan emosinya (baik emosi positif atau negatif) merupakan sebagian cara mengajari anak tentang kesadaran diri. Kalau anak sudah mampu mengidentifikasikan emosinya, berarti kesadaran diri anak sudah mulai tumbuh.
Seperti contoh di atas, kalau anak marah kita membantu merumuskan dengan ungkapan-ungkapan bijak. Ungkapan itu sekaligus kita jadikan sarana untuk memberikan perhatian tulus, bahkan cinta tulus kepada anak-anak kita. Misalnya dengan mengatakan, “Sedang marah ya, sayang?” atau “Oh, kamu bersikap seperti itu karena marah ya?”.
Demikian juga, kalau anak sedang sedih, kita membantu merumuskan dengan ungkapan-ungkapan seperti, “Kenapa sayang, kok kelihatan sedih?” atau “Lagi sedih ya, kenapa?”. Dengan ungkapan-ungkapan seperti itu, anak akan menyadari perasaan atau emosinya sendiri.
Adapun kita, tidak bijaksana kalau hanya sebatas membantu merumuskan. Kita juga harus membantu mencarikan solusi, bukannya malah menyalahkan anak. Menyalahkan misalnya dengan mengatakan “Sudah! Begitu aja kok sedih!” atau “Ah, dasar cengeng!”.
Kita mencari tahu, apa sumber kesedihannya, misalnya dengan berkata, “Adek sedih karena bonekanya hilang ya?” Lalu, berusaha membantu, misalnya berkata, “Yuk, mama bantu mencarikan. Yuk, kita cari bersama-sama.” Atau dengan memperjelas (menjadikan lebih fokus masalahnya), misalnya dengan bertanya, “Terakhir kali, adek taruh di mana?”. Dengan masalah yang sudah jelas, tawarkan bantuan, “Ayo, kita cari bersama-sama.”
Kita juga bisa mengungkapkan perasaan atau emosi kita. Ketika anak marah dan mengekspresikannya dengan memukul, kita bisa saja berkata, “Kalau kamu marah, tidak boleh memukul seperti itu. Mama tidak senang.” Atau kalau anak sedih dan terus ngambek, kita bisa saja mengatakan, “Mama merasa terganggu kalau kamau seperti itu terus. Kalau kamu begitu, Mama juga ikut sedih lho”.
Sekali lagi, dengan cara-cara sederhana itu, kita sedang mengajarkan kesadaran diri kepada anak. Terutama kesadaran diri akan emosinya. Lama kelamaan anak akan semakin memahami kesadaran dirinya. Dan, dengan pemahaman tersebut, anak akan semakin terampil mengendalikan emosinya.[1]
2.             Belajar Mempercayai dan Mengerti Perasaan Orang Lain (Empati)
Saat mengucapkan: “Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabaraakatuh” kepada orang lain, sesungguhnya memiliki arti: Semoga Allah memberikan keselamatan dan rahmat kepada Anda. Ketika mengucapkan kata ‘semoga’ sebuah makna “saya berharap” memancar daripadanya. Berharap secara sungguh-sungguh agar ia mendapat keselamatan serta berkah. Ini bukan semata-mata seperti salam ‘selamat pagi’ ataupun ‘selamat siang’, tetapi haruslah datang dengan niat untuk bersinergi dengan orang lain. Dengan prinsip Basmalah, berarti sebuah ajakan untuk melakukan sinergi hati. Apabila pelaksanaan sinergi belum terwujud, paling tidak telah tersurat rasa empati yang merupakan landasan dari hubungan saling percaya. Tataplah kedua matanya, biarkan ia melihat ketulusan salam Anda. Gengam erat tangannya serta ucapkan salam, saat itulah Anda mendapatkan energi dari hatinya untuk mulai saling percaya. Asslamu’alaikum adalah seuntai kata bermakna janji persaudaraan, saling percaya dan saling membantu.[2]
Firman Allah SWT:
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ عَمْرٍ ورَضِيَ اللهً عَنْهُمَا اَنَّ رَجُلاً سَأ َلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:اَيُّ الْاِسْلاَمِ خَيْرٌ؟ قَالَ:تُطْعِمُ الطَّعَمَ:وَتَقْرَاءُ السَّلاَمَ عَلىَ مَنْ عَرَفَتْ وَ مَنْ لَمْ تَعْرِفْ.[3]
Artinya:”Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a. bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah SAW., “Bagaimana Islam yang paling baik?” Beliau menjawab, “Kau berikan makan (kepada orang miskin) dan kau ucapkan salam kepada orang yang kau kenal dan orang yang tidak kau kenal”. (H.R. Muslim).
Ada dua buah permainan sederhana yang cukup menarik dan bisa menumbuh kembangkan kepercayaan anak-anak, permainan ini sangat menyenangkan bagi anak juga dapat menstimulus rasa kebersamaan.
Permainan pertama ini dinamakan “Berjalan saling percaya”.
Aktivitas ini mendorong anak-anak untuk belajar mendukung dan mempercayai satu sama lain, sehingga terjalin keakraban dan kebersamaan.
Petunjuk: Mintalah anak-anak untuk membentuk pasangan dan berdiri berhadapan satu sama lain. Anak-anak kemudian menyandarkan diri satu sama lain dengan telapak tangan mereka bersentuhan, karena itu juga menompang satu sama lain seperti sebuah jembatan. Pastikan setiap anak berdiri tegak dengan tubuhnya condong kedepan ke arah anak yang lain. Mulai berjalan kesamping setapak demi setapak dalam posisi ini.[4]
Permainan kedua dinamakan “Stik Goyang”.
a.             Tujuan Permainan
1)             Menjalin kerja sama dan toleransi antar anggota.
2)             Belajar menerima dan siap kapan pun harus memberikan kesempatan menerima dan siap kapan pun harus memberikan kesempatan kepada yang lain.
3)             Berlatih menghadapi segala rintangan atas asas kebersamaan.
b.             Alat
1)             Tali pramuka/rafia; jumlah tali disesuaikan dengan jumlah peserta.
2)             Tongkat/balok/papan kayu/bambu yang panjang (2-3 meter) dengan diameter bebas.
3)             Aneka halang-rintang.
c.             Pelaksanaan
1)             Tiap anggota tim berhak memegang seutas tali, boleh sebelah kanan atau kiri.
2)             Letakkan balok/bambu di tengah tarikan utas tali, di mana tali dalam kondisi kencang.
3)             Tim menempuh suatu perjalan penuh rintangan dengan jarak bebas.
4)             Tim terbaik adalah yang memiliki waktu tempuh tercepat dan balok/bambu tidak pernah jatuh.
5)             Rintangan dapat dibuat sedemikian rupa, sehingga perjalanan membawa balok/bambu tampak penuh tantangan, misalnya melebat, menyempit, lompat, atau naik dan turun.[5]
Ciri-ciri :
1)            Menghadapi orang lain dengan penuh perhatian, terbuka.
2)            Menjalin kontak mata dengan baik.
3)            Menunjukan empati pada orang lain.
4)            Mendorong orang lain menyampaikan kisahnya.
Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan interpersonal adalah manajer, politisi, pekerja sosial, pemimpin, psikolog, guru atau konsultan.



[1] Wahyudin, Ma.. aku bisa!!, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2008), hlm. 114-116.
[2] Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ Emotional Spiritual Quotient,( Jakarta: Penerbit Arga, 2005), hlm. 148.
[3] Muhammad Nashiruddin al-Albani, Mukhtashor Shahih Muslim, terj. Oleh  Elly Lathifah, (Jakarta: Gema Insani,, 2005), hlm. 32.
[4] May Lwin dkk, Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan,terj. Oleh Christine Sujana, S.Pd., (Jakarta: PT Indeks, 2008), hlm. 221.
[5] Mulyono dan Badiatul Muchlisin Asti, Smart Games For Outbound Training, (Yogyakarta : Diva Press, 2009), hlm. 17-18.