Rabu, 13 Februari 2013

Mathematical intelligence

1.             Mencari Pola
Anak-anak secara tidak disadari belajar dan dapat memahami pola dan urutan di sekitar kita sejak usia muda. Hiasilah dinding di rumah dengan poster yang menggambarkan berbagai pola,bentuk, dan warna. Biarkan anak Anda yang sedang belajar berjalan lebih lanjut mengagumi pola-pola melalui kegiatan bermain dengan balok-balok plastik dengan bentuk geometris. Untuk anak-anak yang masih kecil, Anda dapat membantu mereka mengamati pola di alam dengan mengelompokkan berbagai jenis daun, bunga.[1]
2.             Mempraktikkan dan Mengerjakan Soal-soal Metematika
Anak-anak harus disadarkan bahwa matematika berada di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Ajarkanlah kepada anak Anda mengenai persentase dengan menggunakan contoh di sekitarnya. Hitunglah persentase teman kelasnya mengunakan berbagai alat transportasi ke sekolah atau persentase anggota keluarga yang memakai kacamata. Dia juga dapat mempelajari rata-rata dengan menghitung tinggi dan berat rata-rata dari tiga orang nya.[2]
Berikut sebuah permainan yang dapat meningkatkan kecerdasan matematis anak.
Permainan ini mendorong anak Anda untuk menghitung dan mengenali bilangan, dan juga mengembangkan keyakinan untuk menggunakan matematika dalam situasi keseharian.
Petunjuk: Buatlah sebuah gambar ular, pada ruas-ruas tubuh ular diberi nomor 1-11. Ajukan kepada anak Anda sejumlah pertanyaan dan mintalah dia menjawab secara verbal dan juga menunjukkan bilangan pada Pak Ular.
Contoh beberapa pertanyaan yang dapat Anda ajukan:
a.              Berapa umur mu?
b.             Berapa jumlah mata yang engkau miliki?
c.              Berapa jumlah orang di dalam keluarga mu?
d.             Jika kamu mempunyai lima apel dan saya beri satu apel algi, berapa banyak apel yang engkau miliki sekarang?
e.              Jika kamu sudah mempunyai tiga pensil dan mu memberimu dua lagi, berapa pensil yang kamu miliki sekarang?[3]
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dikembangkan sendiri oleh orang tua atau guru.
Misalnya:
a.              Berapa jumlah Malaikat yang wajib diketahui?
b.             Jika rukun Islam ada 5 dan rukun Iman ada 6 berapa jumlah total  rukun?
c.              Jika jumlah rakaat sholat subuh dua rakaat dan sholat maghrib 3 rakaat, ada berapa jumlah total rakaat sholat subuh dan maghrib?
3.             Mengembangkan Keterampilan Memecahkan Masalah
Anak-anak yang sering bertanya tentang cara kerja suatu alat atau mengapa hal-hal tertentu terjadi sebagaimana adanya cenderung memiliki keterampilan menyelesaikan masalah yang lebih baik. Mereka adalah orang-orang yang dengan cermat menganalisis komponen masalah-baik pribadi maupun sebaliknya-sebelum secara sistematis menguji penyelesaian-penyelesaiannya. Kedalaman tanggapan mereka terhadap gagasan matematis, yang dikaitkan dengan keyakinan dan kecekatannya menyelesaikan masalah kehidupan nyata, adalah unsur dasar dari kecerdasan matematis. Ilmuan, ahli matematika, dan filsuf semua mengandalkan kecerdasan ini.[4]
Anak-anak selalu penuh rasa ingin tahu. Mengapa warna kulit katak bukan biru? Mengapa aku tidak bisa mencium bau hidung ku? Berapa tinggi pohon itu? Anda Mungkin akan terbungkam mendapat pertanyaan tentang hidung tadi, tetapi Anda tahu bahwa ada beberapa katak yang benar-benar berwarna biru. Pertanyaan ketiga bisa Anda jawab dalam sekejab.
Anda tahu dengan tepat cara bagaimana menentukan tinggi pohon sebab Anda mengetahui ilmu ukur di SLTA: segitiga sebangun adalah…sebangun. Dan ini berarti bahwa bila anak Anda menggunakan segitiga yang sebangun dengan pohon itu, ia akan langsung bisa menentukan berapa tinggi pohon itu.
Begini caranya:
a              Suruh dia mencari sebatang tongkat lurus yang lebih panjang daripada lengannya. Bila ia tidak berhasil mendapatkannya, sebatang tongkat sapu juga bisa digunakan.
            Suruhlah ia mengulurkan tangannya dengan lurus. Kemudian letakkan tongkat itu di sepanjang lengannya. Sekarang suruhlah ia menggenggam tongkat itu sedemikian rupa sehingga bagian di atas genggaman itu sama panjangnya dengan panjang langannya.
            Sementara ia menjulurkan tongkat itu menjauhi badannya, suruh dia melihat melewati tongkat itu kearah pohon. Suruhlah ia “mengukur” pohon itu dengan menyeleraskan ujung tongkat tepat di puncak pohon. Ia tidak boleh menggerakkan tangan maupun matanya saat melakukan ini. Kemudian, suruhlah ia berjalan menuju atau menjauhi pohon itu sampai bagian tongkat di atas genggaman tangannya benar-benar tampak bersatu dengan pohon itu.
           Sekarang suruhlah ia melihat ke bawah. Coba tebak. Ternyata jarak di antara dirinya dengan pohon itu sama persis dengan tinggi pohon itu.
Katakan padanya bahwa ia baru saja mendapatkan pelajaran ilmu ukurnya  yang pertama. Bertahun-tahun kemudian, saat teman-temannya pusing tujuh keliling mengerjakan soal-soal matematika SLTA, ia akan teringat pada pohon dan tongkat itu lalu berpkir, “Ilmu ukur? Siapa takut”. Ayahku sudah mulai mengajari sejak umurku baru enam tahun.[5]
Ciri-ciri :
a.              Mudah membuat klasifikasi dan kategorisasi.
b.             Berpikir dalam pola sebab akibat, menciptakan hipotesis.
c.              Pandangan hidupnya bersifat rasional.
Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan logika matematika adalah : akuntan, ahli statistik, insinyur, penemu, pedagang, dan pembuat program komputer.



[1] May Lwin dkk, Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan, terj. Oleh Christine Sujana, S.Pd., (Jakarta: PT Indeks, 2008), hlm. 52.
[2] Ibid, hlm. 57.
[3] Ibid, hlm. 59-60.
[4] Ibid, hlm. 47.
[5] Walter Browder dan Sue Ellin Browder, 101 Secrets A Good Dad Knows, terj. Oleh Lanny Murtihardjana, (Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer, 2004), hlm. 216-217.